Portalikn.id, Samarinda – Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang kian bising, Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, menyuarakan kegelisahan. Bukan soal teknologi, melainkan bagaimana media sosial yang mestinya jadi sarana edukasi malah kerap disalahgunakan sebagai medan pertempuran opini, bahkan permusuhan.
“Buzzer itu sebenarnya alat. Tergantung digunakan untuk apa. Kalau menyebarkan informasi edukatif, itu sah-sah saja. Tapi kalau dipakai sebagai mesin penyebar kebencian, itu berbahaya,” ucap Ananda lugas, Kamis (3/7/2025).
Sebagai politisi PDI Perjuangan, ia tidak menampik peran buzzer dalam era digital saat ini. Namun ia menekankan pentingnya batasan etika. Menurutnya, ruang digital makin dipenuhi narasi negatif, hoaks, dan isu SARA yang menjurus pada polarisasi sosial. Ia menyebut fenomena ini sebagai ancaman serius bagi kualitas demokrasi.
“Demokrasi butuh kritik, tapi yang bertanggung jawab. Bukan komentar yang bernada fitnah, provokatif, dan membawa sentimen SARA. Itu sudah melewati batas,” katanya.
Ananda juga mengkritisi rendahnya literasi digital sebagian masyarakat, yang membuat mereka sulit membedakan antara kritik objektif dan opini berbayar yang sengaja digiring untuk memancing emosi. Ia menyerukan agar publik Kaltim lebih cermat dan tidak mudah terpancing.
“Selama masih dalam koridor etika dan tidak menyesatkan, buzzer bisa bermanfaat. Tapi kalau melampaui batas, mereka justru jadi racun di tengah masyarakat,” pungkasnya, menyiratkan bahwa suara publik harus tetap jernih, bahkan di tengah riuhnya dunia maya. (Adv).

