Portalikn.id, Samarinda – Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya kasus perundungan (bullying) di kalangan pelajar. Ia menyebut fenomena ini sebagai ancaman serius terhadap kesehatan mental dan perkembangan emosional generasi muda.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa upaya pencegahan bullying harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya bagi korban tetapi juga menyasar pelaku. Menurutnya, memahami latar belakang pelaku perundungan merupakan bagian penting dari penyelesaian masalah secara jangka panjang.
“Ini bukan sekadar kenakalan biasa. Bullying bisa berdampak sangat buruk pada psikis anak. Saya sedih setiap kali mendengar berita tentang anak-anak yang menjadi korban perundungan di sekolah,” ujar Ananda, Selasa (13/5/2025).
Ia menilai bahwa pendekatan pencegahan harus dilakukan secara masif dan melibatkan semua elemen masyarakat, mulai dari pelajar, orang tua, guru, hingga pengambil kebijakan. Edukasi mengenai bahaya bullying, katanya, harus menjadi agenda bersama.
Ananda juga menyoroti bahwa perundungan kerap berakar pada rendahnya rasa empati serta lingkungan yang tidak mendukung perkembangan karakter anak. Oleh karena itu, membangun kesadaran tentang dampak psikologis terhadap korban menjadi prioritas utama.
“Pelaku sering tidak sadar bahwa tindakan mereka bisa meninggalkan luka mendalam pada korbannya. Trauma ini bisa terbawa hingga dewasa dan menghambat pertumbuhan pribadi maupun akademik anak,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak sejak dini. Ia mendorong para orang tua untuk menciptakan suasana komunikasi yang terbuka di rumah serta menanamkan nilai-nilai toleransi dan empati.
“Orang tua memegang peranan utama. Mereka harus menjadi panutan dan tempat aman bagi anak-anak untuk berbagi cerita. Dengan komunikasi yang baik, potensi anak menjadi pelaku atau korban bisa terdeteksi lebih awal,” katanya.
Tak hanya itu, Ananda juga mendesak pihak sekolah dan pemerintah daerah untuk memperkuat pendidikan karakter serta menyediakan layanan konseling yang efektif dan mudah diakses bagi siswa.
“Sekolah harus bisa menciptakan lingkungan yang bebas dari intimidasi. Pendidikan karakter harus diperkuat, dan layanan konseling harus tersedia serta mudah diakses oleh siswa yang membutuhkan,” pungkasnya. (adv).

